Pengertian Peta: Fungsi, Tujuan, Syarat, Komponen, Jenis Bentuknya

Jelaskan pengertian peta? Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas materi tentang peta secara lengkap. Beberapa topik pembahasan yang akan kita pelajar meliputi pengertian peta, fungsi peta, tujuan pembuatan peta, syarat-syarat peta, jenis-jenis peta dan bentuk-bentuk peta. Lengkap sekali kan? Langsung saja simak rangkuman materi berikut ini.

Kenampakan alam suatu daerah dapat dilihat dengan menggunakan peta, atlas, atau globe. Di dalam peta kenampakan alam digambarkan melalui simbol-simbol. Tahukah kamu simbol-simbol yang ada dalam peta?

Mempelajari peta memungkinkan kalian memperluas sudut pandang tentang hubungan ke ruangan pada suatu daerah. Peta dapat menggambarkan fenomena geografikal yang melaporkan, memeragakan, menganalisa, dan memahami hubungan antarobjek secara keruangan. Lalu, apa definisi pengertian peta?

Pengertian Peta

Pengertian Peta

Secara umum, pengertian peta adalah gambaran seluruh atau sebagian permukaan bumi yang dilukiskan atau digambarkan dalam bentuk bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu dan ditambah dengan tulisan-tulisan sebagai tanda pengenal.

Geografi sebagai suatu ilmu yang mempelajari berbagai fenomena atau gejala dipermukaan bumi, memandang peta sebagai alat bantu dalam menganalisis fenomena-fenomena geografi tersebut. Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan peta disebut kartografi.

Peta memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengetahui fenomena-fenomena dan informasi pada suatu tempat. Pada umumnya manfaat peta adalah menginformasikan letak, bentuk, maupun luas suatu bagian permukaan bumi.

Fungsi Peta

Setelah mengetahui pengertian peta, lalu apa fungsi peta? Kegunaan peta tergantung dari klasifikasi peta, atau tema peta itu sendiri. Peta dengan tema-tema tertentu disebut peta tematik. Secara umum fungsi peta bagi manusia adalah:

1. Menunjukan posisi atau lokasi relatif di muka bumi

Fungsi peta pertama yaitu memberikan informasi letak suatu tempat dengan tanpa kita harus pergi ke tempat tersebut. Letak suatu tempat ini ditunjukan oleh letak lintang dan letak bujur pada peta.

2. Menggambarkan ukuran luas dan bentuk fenomena fisik dan sosial budaya

Luas suatu tempat dapat diketahui dengan hanya mencermati peta. Kita dapat menghitung luas tempat tersebut dengan mengukur luas pada peta kemudian dikonversikan dengan skala peta tersebut. Di samping itu, kita juga dapat mengetahui bentuk fenomena fisik suatu tempat.

Apakah dataran tinggi, laut, sungai, dataran rendah, danau, rawa dan sebagainya dengan melihat simbol-simbol pada peta. Simbol pada peta juga memberikan informasi kondisi sosial budaya tempat tersebut. Contoh, kondisi sosial seperti mata pencaharian, bentuk rumah di kota atau desa dan sebagainya.

3. Menunjukan arah, jarak serta sebaran fenomena di muka bumi

Pada waktu kalian akan pergi ke suatu daerah, kalian dapat menentukan arah dan jarak daerah tersebut melalui orientasi dan panjang daerah tersebut pada peta. Sedangkan sebaran fenomena di permukaan bumi juga dapat diketahui pada peta melalui kondisi-kondisi khusus daerah tersebut.

Kamu dapat mengetahui sebaran flora dan fauna berdasarkan letak lintang yang membedakan iklim pada tiap wilayah di permukaan bumi. Misal pohon kaktus akan banyak dijumpai pada daerah gurun, hewan pinguin banyak dijumpai di daerah kutub, dan sebagainya.

Sedangkan pada daerah lain yang berbeda tidak akan ditemukan jenis flora dan fauna tersebut kecuali bila ada perlakuan khusus oleh manusia dengan membuat kondisi iklim yang sama pada tempat yang lain.

4. Menunjukan gerakan dan kecenderungan perubahan pola keruangan di muka bumi

Perubahan penggunaan lahan pada suatu tempat tiap waktu tertentu dapat menjadi dasar kecenderungan pola keruangan suatu wilayah. Misal, kecenderungan peningkatan permukiman di D.I. Yogyakarta terjadi pada wilayah utara. Hal ini ditunjukkan oleh hasil pemetaan yang menunjukan semakin meningkatnya permukiman yang mendekati lereng merapi.

Tujuan Pembuatan Peta

Mengacu pada pengertian peta dan fungsinya, adapun tujuan pembuatan peta adalah sebagai berikut:

1. Komunikasi Informasi Ruang

Tujuan pembuatan peta yang pertama adalah memberikan kemudahan bagi manusia untuk mencermati suatu tempat. Informasi pada peta merupakan sarana komunikasi bagi kita untuk mengetahui kondisi tempat tersebut.

Informasi yang dapat diperoleh misalnya letak, ketinggian, bentuk perairan yang ada, iklim, dan lain – lain. Komunikasi dalam peta ini ditunjukkan oleh simbol dan gambar yang mewakili fenomena pada daerah bersangkutan.

2. Menyimpan Informasi

Peta dapat menyimpan informasi suatu tempat yang tidak memerlukan deskripsi yang banyak. Simbol dan gambar pada peta pada kurun waktu tertentu akan menjadi sumber informasi yang dapat dijadikan acuan pada kurun waktu yang berbeda.

Misalnya peta penggunaan lahan di DAS Cisanggarung bagian hulu tahun 1970-an masih berupa hutan dan tegalan, pada tahun 2003 daerah tersebut telah beralih fungsi sebagai lahan permukiman penduduk.

3. Membantu Suatu Pekerjaan (konstruksi jalan, navigasi dan perencanaan)

Peta dapat digunakan sebagai sumber perencanaan suatu kegiatan. Konstruksi jalan yang akan dibangun direncanakan awalnya melalui informasi dari peta melihat jenis tanah, ketinggian tempat, penggunaan lahan wilayah yang akan dijadikan jalan dan sebagainya.

Di samping itu pembuatan peta bertujuan sebagai alat navigasi. Tentara melakukan peperangan tidak akan lepas dari peta, begitu juga halnya dengan para nakhkoda kapal yang menggunakan peta sebagai sumber informasi posisi dan arah yang akan ditempuh.

4. Membantu dalam Pembuatan Suatu Desain.

Peta digunakan oleh para desainer jalan sebelum mereka melakukan pembuatan jalan. Hal yang diperhatikan dalam mendesain suatu jalan seperti kemiringan lahan, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Selain jalan, untuk mendesain bangunan juga menggunakan peta. Misalnya mendesain komplek perumahan oleh para developer

5. Analisis Data Spasial (perhitungan volume perairan), Pengelompokkan Lahan Pertanian, dan Lahan Kritis

Berbagai informasi yang didapat dari peta, berguna untuk menghitung rasio (perbandingan) satu tempat. Perbandingan tersebut dapat memunculkan informasi baru. Volume waduk dapat diukur melalui analisa, bentang alam, debit air, dan sebagainya.

Syarat-Syarat Peta

Mengacu pada pengertian peta yang sudah disebutkan diatas, terdapat 3 syarat utama dalam peta yang perlu diperhatikan. Adapun syarat-syarat pembuatan peta antara lain sebagai berikut :
  • Conform, yaitu bentuk peta yang digambarkan harus sama dengan bentuk yang sebenarnya yang terdapat di lapangan.
  • Equidistance, yaitu jarak peta yang digambarkan harus sama dengan jarak sebenarnya yang terdapat di lapangan.
  • Equivalent, yaitu luas peta yang digambarkan harus sama dengan luas sebenarnya yang terdapat di lapangan.
Itulah 3 syarat-syarat peta yang perlu kalian pahami sebelum membuat peta.

Komponen Peta

Setelah mengetahui pengertian peta, fungsi, tujuan dan syarat-syaratnya, lalu apa saja komponen-komponen peta? Peta dikatakan benar jika komponen-komponen dalam peta telah terpenuhi. Peta dikatakan lengkap apabila memiliki komponen antara lain meliputi judul, legenda, skala, garis lintang dan bujur, inset, simbol, arah mata angin, tahun pembuatan, sumber dan pembuat peta, dan yang terakhir huruf-huruf peta.

Jika dihitung, terdapat kurang lebih sekitar 10 komponen peta. Informasi lebih lanjut, berikut ini penjelasan masing-masing komponen peta.

1. Judul Peta

Komponen peta paling utama tentu saja judul peta. Pada sebuah peta, judul peta harus memenuhi beberapa ketentuan sebagai berikut:
  • Nama dari peta atau nama daerah yang digambar, misalnya PROVINSI KEPULAUAN RIAU, INDONESIA, ASIA TENGGARA dan lain-lain.
  • Hendaknya memberikan informasi yang sesuai dengan isi peta (apa, dimana, kapan), misalnya: HASIL TAMBANG BATUBARA DI INDONESIA TAHUN 2004.
  • Judul jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda dari para pembaca sehingga harus jelas.
  • Diletakan pada bagian atas dari peta (di luar garis tepi, tepat ditengah-tengah).
  • Hendaknya dengan huruf cetak, tegak dan besar semuanya.
  • Agar terlihat baik diusahakan simetris dan proposional.

2. Legenda Peta

Komponen peta kedua yaitu legenda atau bisa disebut keterangan. Pengertian legenda adalah keterangan yang menjelaskan mengenai informasi-informasi yang terdapat di dalam peta, seperti menjelaskan mengenai simbol peta dan warna peta. Memahami legenda akan memudahkan kalian dalam membaca dan memahami peta.

Legenda atau keterangan biasanya disimpan pada bagian bawah peta. Sedangkan isi dari legenda tersebut mungkin memiliki perbedaan antara satu peta dengan peta lainnya tergantung dari peta yang ditampilkan.

3. Skala Peta

Komponen-komponen peta ketiga adalah sekala peta. Skala peta adalah perbandingan antara jarak yang tergambar di dalam peta dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan. Jarak yang dimaksud adalah jarak mendatar atau horizontal.

Skala peta sangat berperan untuk menghitung jarak sebenarnya di lapangan dengan hanya melihat jarak yang tergambar di peta. Misalnya jarak antarkota, antarpulau, di samping itu juga dapat dipergunakan untuk menghitung luas misalnya luas kota, luas provinsi, luas pulau dan sebagainya.

Pada saat mencermati peta yang berbeda, kamu mungkin menemukan bermacam-macam jenis skala. Pada umumnya skala yang digunakan dalam peta sebagai berikut.

1) Skala angka/pecahan

Skala numeric (numerical scale) yaitu skala yang ditulis dalam bentuk angka. Contoh: 1 : 500.000
Skala pecahan (representative fraction) Contoh: 1/500.000

2) Skala grafis atau skala garis atau skala tongkat (graphic scale)

Skala grafis merupakan skala yang dituangkan dalam bentuk garis lurus dibagi dalam ruas yang sama dan tiap bagian menunjukkan satuan panjangnya.

3) Skala verbal

Skala yang dinyatakan dalam bentuk kata – kata. Misal, 1 centimeter = 5 kilometer, 4 inches to 1 mile.

4) Ekuivalen (equivalent scale)

Skala yang dinyatakan dengan dua satuan jarak yang berlainan, misalnya 1cm = 5k, 5 inches to 1 mile.

5) Skala kebalikan (reciprocal scale)

Skala yang tidak dinyatakan dengah perbandingan melainkan hanya menyebutkannya skala saja misal 5000. Skala ini tidak banyak digunakan, tetapi praktis digunakannya.

4. Garis Lintang dan Bujur

Komponen peta selanjutnya adalah garis lintang dan bujur. Pengertian garis lintang secara umum adalah garis khayal yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Garis khatulistiwa sering disebut juga garis lintang nol derajat atau equator.

Indonesia sendiri merupakan salah satu Negara yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Kamu tentu masih ingat sebutan untuk kota Pontianak bukan? Kota tersebut disebut kota khatulistiwa karena terletak tepat pada garis khatulistiwa.

Garis lintang di sebelah utara khatulistiwa dinamakan garis lintang utara, sedangkan garis di sebelah selatan disebut lintang selatan. Garis balik utara (23 ½° LU) disebut juga tropic of cancer, sedangkan garis balik selatan (23 ½° LS) disebut juga tropic of capricorn.

Sementara itu, penegrtian garis bujur adalah garis khayal yang membujur dari kutub utara ke kutub selatan. Dinamakan juga garis meridian. Garis ini paling rendah 0° dan paling tinggi 180°, berimpit antara 180° BT dengan 180° BB.

Garis bujur dan garis lintang sangat berguna untuk menentukan posisi suatu tempat. Perpotongan antara garis lintang dan garis bujur menunjukan koordinat suatu tempat di permukaan bumi.

5. Inset Peta

Inset adalah bagian dari peta yang digambarkan secara khusus dan diletakan pada bagian peta yang masih kosong (kiri bawah, kanan bawah atau bagian kiri atas bagian dari peta).

Ada tiga macam inset, yaitu:

1) Inset yang berfungsi sebagai penunjuk lokasi

Inset ini skalanya lebih kecil dari skala peta pokok. Biasanya digunakan apabila daerah yang dipetakan belum banyak dikenal oleh umum, jadi insetnya adalah daerah yang sudah banyak dikenal umum dan biasanya mempunyai wilayah administrasi yang luas.

2) Inset berfungsi untuk memperjelas kenampakan yang dianggap penting. Inset ini mempunyai skala yang lebih besar jika dibandingkan dengan skala peta pokok.

3) Inset yang berfungsi sebagai penyambung

Inset ini dibuat sehubungan ada sebagian kenampakan yang belum tergambar. Sebagian dari kenampakan yang belum tergambar tersebut sangat kecil jika dibandingkan penampakan yang lain, sehingga cukup ditempatkan pada bagian yang kosong. Karena berfungsi sebagai penyambung maka skala inset tersebut sama besarnya dengan skala peta pokok.

6. Simbol Peta

Komponen peta selanjutnya adalah simbol peta. Pada peta yang kalian baca dapat ditemukan simbol-simbol yang digunakan untuk menunjukkan ciri-ciri atau keistimewaan suatu kenampakan pada peta. Simbol-simbol tersebut merupakan bentuk umum dan sederhana yang mudah dipahami semua orang.

Pada peta/atlas yang sering kalian jumpai, simbol-simbol tersebut diletakan dalam bingkai legenda dengan diberi keterangan agar tidak memiliki pengertian yang berbeda dengan maksud pembuat peta.

Berdasarkan bentuknya simbol dapat digolongkan menjadi tiga yaitu, Simbol pada peta dapat berupa simbol titik, simbol garis, dan simbol bidang atau simbol wilayah.

1. Simbol titik, simbol titik terdiri atas simbol gambar (piktoral), simbol geometrik dan simbol huruf.

2. Simbol garis, simbol ini digunakan untuk menunjukkan kenampakan seperti: rel kereta api, jalan, sungai, garis pantai, garis kontur dan kenampakan lain yang bentuk dasarnya dari garis.

3) Simbol bidang/simbol wilayah

Simbol bidang digunakan untuk menunjukan kenampakan di alam yang berbentuk bidang pada peta. Beberapa contoh dari symbol bidang yaitu: Pulau, danau, pegunungan, sawah, rawa, dan macam-macam bentuk wilayah lainnya.

Simbol dapat pula digolongkan atas dasar dimensinya. Simbol-simbol ini, yaitu:
  1. Simbol satu dimensi, misalnya jalan, garis pantai, garis batas, sungai-sungai dan lain-lain.
  2. Simbol dua dimensi, misalnya danau, pulau, pegunungan dan lain-lain.
  3. Simbol tiga dimensi, misalnya simbol bola, kerucut dan lain-lain. Simbol tiga dimensi ini banyak digunakan pada peta-peta statistik atau peta ekonomi.
Simbol Pada Peta Berwarna

Pada peta berwarna simbol-simbol dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:

1) Kenampakan Hypsografi

Kenampakan hypsografi menunjukan bentangan alam daratan, misalnya pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah, bukit, lembah dan bentuk daratan lain. Kenampakan ini biasa disebut juga kenampakan relief. Warna yang digunakan untuk menunjukkan kenampakan tersebut, yaitu warna coklat (coklat sangat muda, coklat tua sampai coklat sangat tua).

Penggunaan warna tergantung tinggi rendahnya kenampakan tersebut. Semakin tinggi permukaan atau kenampakan maka semakin tua warnanya. Sedangkan untuk puncak gunung yang bersalju digunakan warna putih.

2) Kenampakan Hydrografi

Kenampakan ini berupa bentang alam berupa perairan seperti: lautan, laut, selat, teluk, sungai, danau dan lain-lain. Warna yang digunakan untuk menunjukkan kenampakan perairan yaitu warna biru. Warna biru ini dibuat bertingkat-tingkat dari yang warna biru keputih-putihan (biru sangat muda), biru muda, biru, biru tua sampai biru kehitaman.

Tingkatan warna itu disesuaikan dengan kedalaman perairan tersebut. Perairan dangkal seperti laut dangkal dan selat digunakan warna biru muda sedangkan palung laut menggunakan biru kehitam-hitaman.

3) Kenampakan Kultur

Kenampakan ini berupa hasil karya manusia seperti: jalan, rel kereta api, kota, bangunan dan lain-lain. Warna yang digunakan biasanya adalah merah atau warna hitam. Warna merah digunakan untuk kenampakan kota atau jalan sedangkan warna hitam sering digunakan untuk menunjukkan bangunan, dam, dan lain-lain.

4) Kenampakan Vegetasi

Pada peta berwarna menggunakan warna hijau. Selain itu warna hijau digunakan juga untuk menggambarkan dataran rendah dan desa.

7. Arah Mata Angin

Arah mata angin pada peta sering disebut juga orientasi. Arah mata angin ini menentukan letak karena menunjukkan arah. Pada peta, biasanya arah utara letaknya di bagian atas, selatan di bagian bawah, timur di sebelah kanan dan sebaliknya disebelah kiri, yaitu arah barat.

Arah mata angin mempunyai arti yang penting karena membantu dalam menentukan letak suatu tempat. Tanpa mengetahui arah mata angin dari peta tersebut, kita tidak dapat mengetahui letak sesuatu tempat dari tempat yang lain, walaupun mengetahui jarak antara kedua tempat tersebut. Dalam peta, arah mata angin biasanya digambarkan dengan anak panah atau bentuk penunjuk arah lainnya.

8. Tahun Pembuatan

Tahun pembuatan juga termasuk komponen peta yang penting. Dalam sebuah peta sering ditemukan tahun pembuatan peta. Unsur peta ini membantu menentukan keakuratan data lapangan karena bisa jadi terdapat perubahan-perubahan pada setiap tahunnya.

Sehingga informasi yang diberikan oleh peta tersebut tidak salah. Contoh, peta persebaran para transmigran dari pulau Jawa ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tentunya, tiap tahun mungkin tidak mesti sama sehingga tahun pembuatan harus disertakan dalam peta.

Contoh yang lain peta tingkat kelahiran tiap daerah di Pulau Jawa. Tahun pembuatan peta ini biasanya ditulis menyatu dengan judul peta atau disimpan dibagian pojok kanan bawah peta tersebut.

Sumber dan Pembuat Peta
Sumber dalam hal ini adalah sumber peta dan sumber data. Maksud dari sumber peta adalah darimana peta dikutip (atlas, peta topografi atau peta yang lain). Sumber data maksudnya dari mana data-data dalam peta tersebut diperoleh (BPS, dinas pertanian, dinas pertanahan, atau yang lain).

Pembuat peta perlu dicantumkan berkaitan dengan kebenaran peta yang dibuat. Contoh: Dibuat oleh Muhammad Ali tahun 2005. Sumber dan pembuat peta ini biasanya ditulis di bawah bagian pojok kanan atau kiri.

9. Huruf-Huruf Peta (lettering)

Pada umumnya pada sebuah peta ditemukan tiga tipe huruf yaitu:

Huruf Romawi besar, digunakan untuk menulis nama-nama negara, bagian dari negara, ibu kota negara dan kota-kota besar. Sedangkan huruf romawi kecil, untuk nama-nama kota kecil, misalnya karesidenan, kota kabupaten, desa.

Huruf Italic besar digunakan untuk memberikan nama-nama lautan, teluk yang besar, selat yang luas, sungai-sungai besar, danau yang luas dan laut yang luas. Sedangkan huruf italic kecil digunakan untuk nama-nama, seperti sungai kecil, danau kecil, selat sempit, teluk yang sempit, dan rawa.

Huruf gothic tegak, besar digunakan untuk memberikan nama-nama: jalur pegunungan, gunung lembah yang luas, dataran rendah, dataran tinggi yang luas. Sedangkan huruf gothic tegak kecil untuk nama-nama: lembah yang sempit, bukit-bukit, dataran tinggi sempit, igir-igir, pegunungan, puncak bukit yang rendah.

Mengacu pada pengertian peta dan komponen peta, jenis peta dikelompokkan menjadi lima. Yaitu jenis peta berdasarkan macam, isi, skala, proses pembuatan dan keadaan obyeknya.

Jenis Peta Berdasarkan Macamnya

Berdasarkan macamnya, peta dapat dibedakan menjadi:
  • Peta foto, yaitu peta yang dihasilkan dari mozaik foto udara atau orto foto yang dilengkapi dengan garis kontur, nama dan legenda.
  • Peta garis, peta yang menyajikan keadaan alam (detail alam) dan buatan manusia dalam bentuk garis, titik dan luasan. Contoh peta garis adalah peta topografi dan peta tematik.

Jenis Peta Berdasarkan Isinya

Jenis peta kedua yaitu berdasarkan isinya. Berdasarkan dari isi, peta dapat dibedakan menjadi:

1. Peta Umum 

Pengertian peta umum yaitu peta yang menggambarkan kenampakan yang bersifat umum pada suatu daerah tertentu, baik kenampakan (fisis) maupun (kultur).

Ada tiga macam peta umum:
  • Peta chorografi : berskala sedang, menggambarkan sebagian atau seluruh permukaan bumi.
  • Peta dunia : berskala kecil, menggambarkan seluruh dunia dalam satu peta, kenampakan yang tergambar sangat global.
  • Peta Topografi : berskala besar (biasanya 1 : 50.000), dan menggambarkan permukaan bumi dengan titik berat reliefnya atau menggambarkan kenampakan permukaan bumi secara keseluruhan, baik buatan manusia maupun alami.
2) Peta Khusus

Jenis peta berdasarkan isinya yang kedua adalah peta khusus. Pengertian peta khusus secara umum menggambarkan suatu aspek/kenampakan tertentu baik kondisi fisik maupun budaya.

Contoh peta khusus:
  1. Peta pariwisata : peta yang berisikan objek-objek wisata suatu daerah
  2. Peta perhubungan : peta yang menggambarkan hubungan antara tempat/negara (laut/pelayaran, darat, udara, telephone, TV, dansebagainya)
  3. Peta iklim : peta yang menggambarkan keadaan iklim pada suatu daerah tertentu (biasanya dilengkapi dengan grafik curah hujan, temperatur, angin, udara)
  4. Peta kota : peta yang menggambarkan kenampakan umum suatu kota, biasanya berskala besar. Misalnya: pasar, jalan, jalan kereta api, pusat industri, daerah pertokoan, dan sebagainya).

Jenis Peta Berdasarkan Skalanya

Jenis peta ketiga yaitu berdasarkan skalanya. Ditinjau berdasarkan dari skala, peta dapat dibedakan menjadi:
  1. Peta kadaster, mempunyai skala 1 : 100 – 1 : 5.000. Peta ini biasanya digunakan untuk pengukuran tanah. Contohnya peta lingkungan RT, RW, dusun, dan desa.
  2. Peta skala besar, mempunyai skala 1 : 5.000 – 1 : 250.000. Digunakan untuk menggambarkan wilayah yang relatif sempit. Contohnya peta kecamatan dan peta kabupaten.
  3. Peta skala sedang. mempunyai skala 1 : 250.000 – 1 : 500.000. Biasa digunakan untuk wilayah yang agak luas. Peta skala sedang, contohnya untuk peta administratif kabupaten atau pulau kecil.
  4. Peta skala kecil, mempunyai skala 1 : 500.000 hingga 1 : 1.000.000. Contohnya peta provinsi biasa untuk menggambarkan wilayah negara Indonesia yang luas.
  5. Peta geografi, yaitu peta dengan skala yang lebih kecil dari 1 : 1.000.000 dan bisa digunakan untuk wilayah regional. Contohnya peta wilayah negara, hingga kawasan negara-negara.

Jenis Peta Berdasarkan Proses Pembuatannya

Kemudian jenis peta selanjutnya yaitu berdasarkan proses pembuatannya. Ditinjau dari proses pembuatannya, peta dapat dibedakan menjadi 3, yaitu peta manuskip, dasar dan turunan. Berikut ini penjelasannya:
  1. Pengertian peta manuskip : produk pertama suatu peta yang akan diproduksi dalam keseluruhan proses pemetaan
  2. Pengertian peta dasar : peta yang sajikan dasar untuk pembuatan peta-peta lainnya
  3. Pengertian peta turunan : peta yang diturunkan dari peta induk dan skalanya lebih kecil daripada peta induknya
  4. Jenis Peta Berdasarkan Keadaan Obyeknya
Jenis peta terakhir yaitu ditinjau dari keadaan objek yang ada pada peta, meliputi:
  1. Peta dinamik : menggambarkan objek yang labil atau sering mengalami perubahan, contohnya peta daerah transmigrasi, peta Daerah Aliran Sungai (DAS).
  2. Peta stasioner : menggambarkan objek yang stabil atau tetap, misalnya peta tanah, dan peta geologi.

Bentuk Peta

Mengacu pada pengertian peta dan jenis-jenis peta yang sudah disebutkan diatas, secara umum peta dapat dibedakan menjadi tiga bentuk. Yaitu peta timbul, peta datar, dan peta digital. berikut ini penjelasannya.

1. Peta Datar

Pengertian peta datar yaitu merupakan peta yang sering kalian jumpai atau sering digunakan di sekolah selama ini. Peta datar adalah peta yang dibuat dalam media yang datar dan tidak menunjukan adanya perbedaan ketinggian. Bentuk peta ini biasanya dibuat dalam bentuk-bentuk garis yang dilengkapi dengan simbol-simbol. Contoh peta datar dapat kamu jumpai pada atlas, peta dinding, dan globe.

2. Peta Timbul

Berdasarkan namanya Peta timbul, yaitu peta yang dibuat berdasarkan kenampakan dan bentuk permukaan bumi yang sesungguhnya, gunung digambar seperti gunung yang senyatanya dengan lereng dan lembah yang ada, termasuk alur-alur sungainya.

3. Peta Digital

Pengertian peta digital adalah peta yang disajikan dan dibaca melalui komputer. Peta ini dapat digunakan untuk mencari objek-objek penting dengan cepat. Peta ini juga memuat informasi-informasi penting lainnya mengenai suatu objek tertentu. Kelengkapan informasi dan objek dalam peta ini tergantung pada pembuat peta dalam memasukkan data-data.

Nah, demikian pembahasan secara lengkap mengenai Pengertian Peta beserta Fungsi, Tujuan, Syarat, Komponen, Jenis dan Bentuknya. Lengkap sekali kan? Semoga rangkuman materi diatas dapat berguna dan bermanfaat bagi kalian semau. Baca juga artikel menarik dan informatif lainnya, sekian terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel